#14 Pertemanan dan Belajar Pola Pikir

Siswa SMA di Ibukota Jakarta. Sebagian besar kita bisa amati dibagi menjadi dua golongan. Golongan ilmu sosial dan ilmu alam. Antara kedua bidang disiplin ilmu ini, begitu primadona dikalangan siswa SMA. Tak seperti sistem SD dan SMP yang kompetensi pembelajarannya harus kita kuasai semua. Sistem SMA begitu menarik. Istilah siswanya sudah mulai “penjurusan”. Inilah pilihan sulit yang harus dipilih oleh setiap siswa SMA. Mau masuk ilmu sosial atau ilmu alam.

Umumnya, pilihan siswa didasarkan atas rencana masa depannya. Pilihan akan masa depan ini yang mengakibatkan siswa memilih salah satu dari bidang Ilmu social atau ilmu alam sehingga akan lebih mendekati rencana masa depannya. Pemikiran berlandaskan hal ini ialah pemikiran yang sangat baik. Namun, ada juga pemikiran-pemikiran yang didasarkan hawa nafsu, contohnya ikut-ikutan dan ingin memilih yang tidak menyusakan dirinya dalam belajar. Ini adalah landasan pemikiran yang harus diubah. Lalu, untungnya system pendidikan SMA saat saya merasakan pakaian abu-abu ialah penjurusan ini didasarkan pengamatan pendidikan siswa tersebut selama satu tahun dengan diberikan semua materi bidang ilmu alam dan sosial. Sistem ini bisa dibilang menguntungkan saya dan teman-teman yang orang tuannya tidak mengajarkan rencana masa depan. Dari pengamatan selama satu tahun, kita bisa memutuskan memilih bidang ilmu alam atau social. Menurut saya, dua ilmu ini sama berharganya, tidak ada berat sebelah. Otak sederhana saya berkata, “semuanya harus dipelajari selagi muda”.

Berjuang sana sini diumumkan saya-pun termasuk dalam siswa bidang ilmu alam. Saya lulusan jurusan ilmu Alam. Lalu, apakah ini sudah bentuk kegembiraan? Saya katakan tidak. Saya tidak mengetahui gambaran apa yang mau saya ambil kedepannya. Bidang apa yang mesti saya teruskan setelah saya lulus dari sini. Pikiran bagaimana yang mesti saya timbulkan seperti teman-teman satu angkatan yang sudah memiliki ancang-ancang studi fakultas lanjutannya. Saya terdiam, dipikiran saya cuma satu, mau menjadi TNI AD seperti Ayah saya dan melanjutkan mimpi ayah saya yang gagal di masa lalu. Semangat kata- kata saya adalah lulus dari ilmu alam, lalu masuk AKMIL dan menjadi Jendral. Pikiran kontradiksiku sangat berbeda diantara 160 teman siswa ilmu alam di sekolahku. Tujuan, harapan, dan pikiranku 180° berbeda. Seperti binatang domba ditengah-tengah kumpulan binatang sapi. Domba tersebut dipanen dengan cara memotong bulu-bulunya sedangkan sapi dipanen dengan cara diperas susunya. Atau seperti terbangnya burung pipit diantara para kaisar langit yakni burung elang. Dengan mungil dan ciutnya keperawakan burung pipit terkalahkan dengan kemegahan dan besarnya burung elang. Menarik bukan keadaan seperti ini.

Fenomena inilah yang membuat kemajuan terhadap pemikiranku selama ini.

Belajar dan mempelajari sekeliling itu penting. Cobalah belajar untuk bisa memahami pemikiran dan pandangan seseorang tentang hidup. Semakin diamati maka kita dapat menyimpulkan bahwa ini termasuk ilmu. Saya belajar untuk bisa memberikan hal positif harapan dan hasrat kepikiran saya untuk segala perbuatan. Dengan ini kita bisa memunculkan rasa membara untuk menjalani hidup dan menempuh tujuan-tujuan kecil kita didunia ini. Kita harus belajar untuk bisa membuat tujuan-tujuan kecil didunia ini. Tujuan sederhananya ialah seperti pencapaian akademik, karir, keuangan, pekerjaan, dll. Tujuan tujuan yang kecil dalam pola pikir kita saat itu. Namun sebenarnya ini tujuan-tujuan besar dalam kondisi waktu mendatang.

Persaudaraan dan persahabatan itu penting. Dari hal pertemanan saja kita bisa mengambil hikmah dari pola pikir. Pola pikir dan pandangan kita terhadap sesuatu yang kita yakini itu bisa sudah baik, namun dibalik itu ada yang lebih baik lagi. Maka, makin banyaknya mencari pertemanan. Mari makin kita amati dan ambil manfaatnya. Seperti pola pikir. Mungkin setelah membaca tulisan ini, kalian sudah sedikit-dikit masuk dalam pola pikir saya.

Kata penutup
“Dunia ini bukan tujuan kita. Tujuan besar kita ialah kehidupan setelah meninggalkan dunia ini. Bagaimana memanfaatkan dunia yang sekarang kita tempati dalam ruang dan waktu untuk bisa memperoleh ruang dan waktu kehidupan didepan”.

Penulis : Yudha Prabowo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s