#13 Abang Parkir Carolus

Kisah ini bercerita tentang betapa luputnya kita menghiraukan kata-kata bijak yang disampaikan oleh saudara kita. Terutama saudara kita temui di jalan. Siapakah saudara kita ini. Tak lain ialah Tukang Parkir.

Pada tahun 2011 saat saya masih menginjak SMA di Jakarta Pusat. Ada salah satu permasalahan raport yang perlu diselesaikan. Saat itu saya kekurangan berkas tanda tangan wali kelas 11 IPA 1. Maka dari itu salah satu solusinya ialah saya harus mencari guru tersebut. Berbicara dengannya berharap bisa memenuhi hajat saya. Ternyata, guru saya sudah pensiun. Lalu, apa yang saya lakukan? Berikut ini ceritanya.

Hari itu, saya tertarik dengan salah satu tawaran dari guru Bimbingan Konsultasi (BK) saya. Tawarannya mengenai seleksi sekolah kedinasan. Saya sungguh – sungguh berusaha untuk bisa masuk sekolah kedinasan ini. Alasannya disebabkan sekolah kedinasan menjamin mahasiswanya setelah lulus sudah sudah ditempati mengabdi kepada negaranya sebagai PNS. Guru BK saya cuma menerima 4 siswa. Beruntungnya, saya termasuk salah satu 4 orang tersebut dari seluruh siswa SMA tingkat 3.

Bergegas hati saat bel menunjukan pukul 15:00 WIB. Sekejap saya mendaki lantai 2 untuk menuju ruang guru BK. Berbincanglah saya dengan salah satu guru BK tentang ketertarikan mengikuti tes ini. Tiga puluh menit berlalu. Saya membaca persyaratannya dan ternyata dari kumpulan persyaratan point tersebut ada satu kekurangan yakni berkas Raport legal (baca: sudah disetujui wali kelas). Saya telisik dirumah, raport tingkat dua saya ada yang luput dari tanda tangan guru wali kelas saya. Saya bawa kumpulan persyaratannya, bergegas pulang ke rumah.

Besok harinya, disekolah saya memutuskan untuk ijin supaya bisa bertemu guru wali kelas saya. Saya pergi ke ruang guru dilantai satu. Ruang ini besar sekitar lebar tiga kelas dijadikan satu. Isi ruang ini terdiri dari meja-meja para guru di SMA saya. Penggambarannya bisa dilihat dari awal masuk pintu, langsung bertemu meja guru-guru yang memiliki jabatan tinggi di Sekolah selain Kepala sekolah. Berjalan enam langkah kekanan disitu berjejer rapi dan apik meja guru-guru bidang studi sampai belakang. Akhir ruangan ini terdapat lemari panjang berisi beragam penghargaan, diatasnya terdapat TV, penghibur guru-guru pada ruangan tersebut.

Dengan tas ransel panggul kesukaan saya. Berjalanlah saya menuju meja guru biologi. Beliau ialah guru senior biologi. Beliau begitu dekat dengan guru yang saya cari, saking dekatnya setelah saya tanya, beliau cuma beda sekitar dua atau tiga rumah disamping guru yang saya cari. Rumahnya didalam komplek yang sama.

Beliau guru yang saya kagumi, dari segi mengajarnya beliau menekankan siswa untuk mandiri mencari ilmu dengan cara membaca terlebih dahulu bab yang akan dipelajari. Disamping guru senior yang berwibawa, beliau cukup disegani. Arti segan disini saya tangkap bilamana beliau mengajar di kelas maka teman – teman memiliki satu pikiran yakni DIAM dan SERIUS. Sungguh bahagia diajarkan guru yang satu ini.

Mengutak-ngatik tas kesayangannya. Guru ini mengambil sehelai kertas lalu sebatang pulpen. Dengan was-was saya tebak mau diapakan saya. Ternyata beliau mengajarkan saya langkah-langkah untuk menuju komplek pendidikan, tempat rumah guru yang saya cari. Coret sana, coret sini dan selesai. Satu sisi kertas full dengan panah-panah dan jenis kendaraan menuju kesana.

Muka saya langsung berbinar betapa baiknya beliau. Disamping itu beliau memberi saya beberapa uang untuk membantu saya. Betapa senangnya saya. Berbekal sedikit uang dan alamat dipegang. Berangkatlah ketempat tujuan.

Cerita intinya mulai nih.

Saya menaiki halte busway, seperti biasa cuma itu salah satu cara menyeberangi jalan kesisi lain. Diakhir lorong halte bisa dilihat itu ialah tempat Rumah Sakit Carollus. Ramai dan sesak manusia. Maklum kondisi ini sekitar jam delapan pagi. Saya menuju ke halte disekitar tempat itu, lalu dengan muka polos melihat kanan dan kiri mengamati setiap bus yang lewat. Menurut penuturan guru saya, bus ini jarang – jarang. Terlambat berangkat bisa membuang waktu. Melihat kanan dan kiri sambil membuka kertas pemberian guru saya, isinya panah dan jenis bus yang mesti dinaiki. Saya langsung ditegur oleh abang-abang (panggilan lelaki tidak kenal di Jakarta). Amati lebih dalam, beliau berprofesi sebagai juru parkir.

Abang : Adik hendak kemana?
Yudha : saya ingin menuju suatu tempat pak
Abang : Adik itu, SMA didepan kan? tidak sekolah yah?
Yudha : saya ijin pak, hendak menyelesaikan sesuatu
Abang : Hendak saya bantu ga dik, siapa tahu bapak bisa bantu
Yudha : Wah, makasih pak takut ngerepotin bapak.
Abang : Tak apa-apa. sambil menunggu mobil ini (sambil menunjuj ke satu mobil)
Yudha : Saya mencari bus ini pak, bapak tau jam berapa bus ini datang?
Abang : Oh bus ini mah jam segini dik (saya lupa menunjukan pukul berapa). Nanti adik tunggu disini saja, saya hafal busnya, bila ada adik saya peringatkan kedatangannya.
Yudha : Makasih pak, maaf menganggu bapak.

– lima menit berlalu –
Abangnya mungkin merasa kasian dengan saya, beliau menyampiri saya mengajak berbincang. Sekitar dua puluh menit berlalu beliau bercerita dan saya menjadi pendengar cerita beliau. Ada beberapa percakapan yang saya ingat yakni :

Abang : Adik seorang siswa kan? saya punya anak dik. Mau tau sekarang sudah jadi orang (penggambaran bahwa anak beliau sudah sukses dan memiliki pekerjaan)
Yudha : Sungguh pak? Lalu kenapa bapak masih bekerja disini?
Abang : Saya memiliki anak dik, saya bahagia melihat kondisinya sekarang dari pekerjaan bapak seperti ini. Sungguh ini hasil kerja keras bapak. Namun alasan bapak masih bekerja disini disebabkan saya takut merepotkan anak – anak saya. Saya mandiri dan saya cukup melihat saja kebahagiaannya, tidak ingin merepotkan.
Yudha : Bapak hebat sekali, mohon doanya supaya saya bisa seperti anak bapak. Saya bangga bila memiliki ayah seperti bapak juga. Mohon doanya dewasa kelak saya memiliki kesungguhan jiwa seperti bapak terhadap anak-anak saya. Makasih pak cerita berkesan sekali.

-lima menit berlalu-
Perbincangan terus dilanjutkan sehingga masih saya ingat ada perbincangan menarik dari Bapak tukang Parkir tersebut.

Abang : Adik saya kasih saran untuk adik, mohon diingat dan dicermati.
Yudha : Siap pak, saya dengarkan.
Abang : Adik saya beri nasihat ya, ini tentang kesuksesan masa depan adik. Jauhi tiga perkara ini supaya adik bisa terus sukses. Kesuksesan itu tak jauh dari perbuatan yang dilakukan sehari-hari. Bilamana Allah SWT ridho terhadap adik dan menjauhi ini maka InsyaAllah kesuksesan dan kemudahan mudah adik dapatkan.
Yudha : Baik pak, saya cermati dalam – dalam.
Abang : Nasihat pertama, Jauhi membentak orang tuamu. Jangan sekali kali membentak ibu dan bapakmu. Mereka orang tuamu dan melahirkan serta mendidikmu. Muliakan mereka, cintai mereka, dan turuti kemauannya maka kemudahan hidup adik akan dimudahkan jalannya. Nasihat kedua, Jauhi main perempuan. Fitnah inilah yang mengakibatkan banyak lelaki rusak hidupnya. Terutama tentang perempuan, jangan mengikuti khalayak umum tentang Bermain perempuan, belajarlah untuk memuliakan Ibumu dan istrimu nanti. Jauhi perkara permasalahan perempuan sungguh hidupmu akan dimudahkan. Saran ketiga, Jauhi minuman keras. Ini sumber perusak jiwa dan harta dikarenakan pemabuknya dan mudharatnya. Jauhi perkara ini ya dik. Allah SWT tidak ridho dengan perbuatan ini maka jauhilah perkara memabukan.
Yudha : Terimakasih pak, saya turuti dan ingat selalu nasihat ini.

Perbincangan ini dihentikan dengan datangnya bus yang saya cari. Abang parkir tersebut mengarahkan kepada saya itu bus yang saya cari. Saya bergegas menuju sana. Tak lupa saya bentangkan salam terakhir untuk abang tersebut menandakan kepergian dan akhir dari cerita ini. Senyum dari saya. Dengan mata saya melihat muka beliau. Disamping kondisi panas terik saat itu, terlihat kesejukan diraut mukanya, peci yang dia kenakan pas dengannya. Matanya hitam kelam, berpostur sekitar 165 cm. Sederhana alas kakinya dan pakaiannya namun dibalik itu terdapat kisah nasihat bijak nan indah. Nasihat penyejuk jiwa dari seorang tukang parkir. Tukang parkir yang terkadang kita anggap sepele perkataan dan tindakannya ternyata bisa lebih bijak dari kita memandang kehidupan.

Penulis : Yudha Prabowo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s