Gerakan #merancangIndonesia

Muncul ide dipikiran untuk meluapkan emosi dalam bentuk karya. Sebuah karya gerakan yang akan meluas dan menjadi salah satu lembaga yang diakui negara Indonesia dimasa depan. Gerakan ini bersumber dari rasa cinta pemuda-pemudi Indonesia terhadap negara Indonesia. Cinta akan majunya negara Indonesia dari segala sendi dan lini.

Saya menyebutnya gerakan  #merancangIndonesia . Gerakan #merancangIndonesia untuk Indonesia tahun-tahun kedepan. Gerakan yang memfokuskan dari segala bidang keilmuan untuk MERANCANG Indonesia menuju lebih baik. Membantu pemerintahan Indonesia dan disokong oleh kekuatan kreatif dan semangat mahasiswa dalam membangun bangsa. Gerakan masa depan yang terdiri dari beragam disiplin ilmu dan memiliki satu tujuan yakni #merancangIndonesia .

Tunggu kami bangsa Indonesia. #merancangIndonesia akan menemuimu.

#18 PMR SMAN 68, Wira Debat Competition

Menarik melihat seni debat berlangsung. Layaknya seni pertunjukan wayang dan drama musikal. Debat juga memperagakan daya seni tinggi. Bukan berupa bunyi maupun seni lukis. Bukan juga berupa peragaan frasa kalimat seperti sastra. Bukan juga seperti kumpulan sajak beralur pada pantun.  Bukan pula gambar yang menunjukan keelokan keahlian seorang pelukis. Seninya adalah penyampaian pendapat dan gagasan. Peluapan perasaan seni tinggi yang ditunjukan dalam sajak kalimat. Inilah seni yang ditunjukan oleh debat.

Pada kompetensi debat terdapat dua pihal. Pihak pertama disebut pro (mendukung mosi) dan pihak kedua disebut kontra (tidak mendukung mosi). Sifat bersebelahan inilah yang membuat menarik sebuah kompetensi debat. Antara pihak pertama dan kedua tidak mengetahui mendapatkan pro atau kontra di setiap mosi. Membuat keahlian daya pikir dan seni menyampaikan gagasan ialah penilaiannya.

Lempar tangkap gagasan lugas berlangsung. Tak bisa menjawab bukan akhir segalanya. Melempar permasalahan A lalu di samarkan dengan melempar permasalahan B. Inilah yang sering ditunjukan oleh para debaters bila tidak memahami mosi. Point penilainnya hanya satu. Gagasan mereka dapat meyakinkan pendengar dan juri.

Topiknya ialah tentang kesehatan dan sosial lingkungan. Tak ada yang sulit, hanya curious yang diperlukan. Rasa curious inilah yang membuat suatu tim dapat memenangkan lomba. Sebelum mengikuti lomba debat, apakah sudah memiliki curious yang tinggi dalam diri atau tidak? Banyak fenomena disekitar kita yang dapat dijadikan mosi dalam debat. Ahli dalam menangkap panggilan fenomena itulah point memenangkannya. Mosi ada disekitar kita.

Tema mosi ini yang menarik. Membuat setiap wajah-wajah muda haus kehidupan merasa gusar. Dalam hatinya seperti berkata “aduhai sulitnya mosi ini”. Padahal mosi yang diberikan ada di sekitar kita.

Tujuan lomba ini untuk memberi stimulan kepada siswa-siswi betapa pentingnya peduli terhadap kondisi lingkungan kita. Permasalahan yang dianggap sepele oleh khalayak umum,  harus dianggap penting oleh praktisi PMR. Praktisi calon kesehatan masa depan.

Berikut ini adalah tema mosi yang diujikan saat perlombaan debat tingkat wira di SMAN 68 Jakarta :
1. Pemiskinan bagi pelaku koruptor

2. Pemberian BLT bagi warga tidak mampu

3. Kontoversi kurikulum 2013

4. Penggusuran rumah liar untuk pembangunan jalan

5. Pelaku kejahatan dibawah umur masuk penjara

6. Produksi massal mobil murah ramah lingkungan

7. Pengembangan energi nuklir

8. Pengharaman rokok di Indonesia

9. Tontonan masyarakat menghambat pembangunan nasional

10. Penggusuran PKL

11. Pengadaan jam malam bagi remaja

12. Modernisasi di bali untuk ajang Miss World

13. Pengembangan undang-undang santet

14. Reklamasi pantai ancol

15. Tes keperawanan sebagai syarat masuk sekolah

Mosi diatas ialah contoh mosi yang diberikan pada perlombaan PMR tingkat WIRA di SMAN 68 Jakarta.

Ingat, debat adalah sebuah seni. Semakin indah menyampaikan gagasan dan pendapat maka semakin besar peluang mengambil hati juri. Namun, kemenangan bukan segalanya. Mencoba adalah segalanya. Jadikan mencoba diatas segala-galanya dihidup kita. Selamat belajar dan bertemu kami para Juri lomba debat PMR di SMAN 68 Jakarta.

#17 Bagian 1. Awal Mula Segalanya

CERPEN  untuk umur satu tahun Farmasi Unpad angkatan 2012
20 Oktober 2013
Bagian 1 : Perjumpaan awal segalanya
Penulis : Yudha Prabowo

Harapanku Untuk 2012

Pagi itu diakui, semangat muncul terbendung. Kondisi jatinangor yang tidak dikenal membuat hati merendam. Rasa ini ialah musuh para Mahasiswa Baru (baca: MABA) di Universitas Padjadjaran. Lingkungan baru dengan segala kebebasan yang diberikan membuat mahasiswa merasa kecut hati bisa hidup mengalami proses akulturasi atau asimilasi.

Unpad yang dikelilingi pegunungan bernama Manglayang dan anak gunungnya tampak indah. Buanglah wajah disekitar Unpad maka akan nampak pepohonan dan pemandangan asri khas sunda. Pepohonan dan gunung itu nampak memanggil setiap Maba untuk berkunjung melihatnya. Timpalan senyum langit biru cerah itu tak diragukan lagi menandakan alam sedang tersenyum melihat kehadiran perjumpaan kami, 2012. Permadani hijau dan bunyi alunan musik khas sunda selalu terdengar di celah jalan desa. Inilah lingkungan baru kami para Maba Farmasi angkatan 2012.

“Semangat” ujarku dalam hati membalas jiwa yang sedang redup.

Ini tentang lingkungan baru yang akan ditemui beberapa tahun kedepan. Ini tentang keluarga baru yang akan ditemui. Wajah – wajah dari berbagai provinsi di Indonesia akan bertemu. Teman-teman baru dari berbagai sekolah favorit di Indonesia menunggu.Ilmu-ilmu dibidang farmasi siap menjemput.

Keanekaragaman ini akan membaur menjadi satu pemahaman indah bila berkenalan. Semangat menjadi muncul di jiwaku. Ini cerita awal tentang membangun Harapanku untuk 2012.

=====================================================================================================================

“Huaaaaaaaaaaaaa”, teriakku dipagi hari. Maklum, ini hari pertama menjadi mahasiswa. Status baruku yang kupegang membuatku grogi. Ada tambahan “maha” didepan kata siswa inilah penyebabnya. Sembilan tahun sudah aku alami tittle siswa. Mulai beberapa tahun kedepan, tittle baruku ialah Mahasiswa.

Banyak orang hebat diawali dengan kata Maha. Salah satu contohnya adalah MAHAtma Gandhi. Serius, namun ini kenyataan. Beliau membantu dalam proses kemerdekaan India dari jajahan Inggris. Layaknya presiden pertama kita Soekarno beliau menjadi panutan atas jasanya namun tidak memperoleh hadiah nobel atas karyanya. Ibarat para orang hebat seperti mereka, tittle ini akan diriku manfaatkan untuk kepentingan bangsa, negara dan ilmu pengetahuan.

=====================================================================================================================

Semua baju, celana, dan bahan-bahan lainnya dikosan sudah kukenal. Baju panjang telah dikenakan. Celana bahan hitam juga sudah dikenakan. Terlihat, tas ransel hitam di atas meja belajarpun tak luput dari pegangan-ku untuk dikenakan. Binder dengan teman baiknya pulpen sudah kumasukan. Botol minum tak terlupakan dibawa. Sepatu juga sudah. Semua barang-barang di kosan sudah kukenal, namun ada sesuatu yang belum aku kenal yakni lingkunganku di kampus dan keluarga baruku di farmasi Unpad.

=====================================================================================================================

Teringat percakapan yang dilakukan saat pertama kali menginjakan kaki di Unpad. Percakapan dengan ibu gardener di gedung Parallel.

“Ini namanya Gedung Parallel” kata ibu gardener yang kutanya. Ibu yang bekerja sebagai gardener itu tampak ramah dengan diriku. Kesediaan memberi informasi dan senyum ramah ibunya menunjukan keramahan para masyarakat jatinangor. Telah diketahui khalayak umum, lingkungan jatinangor ditempati oleh masyarakat etnis sunda. Salah satu suku di Indonesia dari 300 etnis yang tersebar sabang sampai marauke (data BPS 2010). Jati diri yang mempersatukan orang Sunda adalah bahasanya dan budayanya. Orang Sunda dikenal memiliki sifat optimistis, ramah, sopan, dan riang. Hal inilah yang ditemui saat berkunjung pertama kali melihat Gedung farmasi Unpad.

“Gedung ini digunakan untuk pratikum disebelah kiri dan belajar disebelah kanan”. ujarnya memberitahu.

Terlihat saat itu, kompleks gedung parallel tersusun atas dua gedung berlantai satu. Dibelakang gedung terdapat kantin tempat mahasiswa senior bersantap ria. Ditengah-tengah antara dua gedung terdapat mushola yang dimilki farmasi. Taman dan pohon didepan gedung ini menjadi daya tarik yang indah. Hijau dengan perawatannya tampak terlihat.

=====================================================================================================================

“Wahai gedung parallel,  perkenalkan nama saya Yudha Prabowo. Mahasiswa baru yang akan selalu bertemu engkau”, ujarku saat melihat kembali gedung tersebut sambil berjalan menuju gedung D6.

Gedung bernama D6 ialah gedung tujuanku. Tak aku ketahui asal usul nama D6 sebagai gedung fakultas farmasi Unpad. Yang diriku ketahui ialah sebelum menjadi fakultas farmasi yang berdiri sendiri, fakultas farmasi adalah salah satu jurusan dari fakultas MIPA Unpad. Pada tanggal 17 oktober 2006 jurusan farmasi berubah statusnya menjadi Fakultas Farmasi.

Di tempat itu terdapat dosen-dosen yang ahli dibidangnya. Tempat itulah pencetak ahli-ahli farmasis yang menjemput dunia. Tempat itulah ilmu dimana aku menimba ilmu. Dan akhirnya, ditempat itulah kami dari berbagai provinsi di Indonesia dipertemukan menjadi angkatan 2012.

=====================================================================================================================

Lima belas menit berlalu, tanjakan ini melelahkanku. Letak gedung D6 fakultas farmasi ada di tengah-tengah perbukitan. Bisa dibilang kampus Unpad Jatinangor ialah kampus pertama di Indonesia dibangun diantara perbukitan dan pemandangan pegunungan. Susunan bukit dan dilapisi pemandangan gunung ini membuatku merasa takjub. Lelah yang muncul saat perjalanan terbayarkan. Lebih-lebih terbayarkan saat jumpa pertama 2012.

=====================================================================================================================

Sepuluh langka lagi tepat didepan gedung D6. Bewarna putih dengan tiga lantai menjulai. Kantin terletak dibelakang gedung dengan kerangka bangun sederhana. Disebelahnya ada ruang BEM-BPM fakultas farmasi. Sebelah kiri gedung ada tempat bernama Hotspot dengan empat meja tersusun apik. Taman yang sederhana ditumbuhi pepohonan dan rerumputan hijau nan asri tampak terlihat dari Hotspot. Disebelah kanan gedung D6 adalah tempat tujuanku. Terlihat kerumunan lelaki dan perempuan tampak berbincang. Hilir mudik berkerumunan sambil berkenalan. Terdengar suara-suara perkenalan nama melambung keawan. Nama-nama berikut ini salah satunya.

“Namaku Syawal, salam kenal”

“Namaku Wisnu euy”

“Namaku Dennis”

“Namaku Saiful”

“Namaku Syah”

“Namaku Riswanto”

“Namaku Dhiya”

“Nam ague Faris”

“Namaku Ekky”

“Namaku Ibrahim, Ah lo ketemu lagi kita”

“Nama urang Ilyas, yomah”

Ratusan nama terdengar dari jauh. Seperti mozaik air jatuh tak terhentikan.  Terdengar meriah namun masih kaku. Tinggal dipoleskan mozaik air jatuh tersebut dengan riak-riak sedikit supaya bercampur dan menunjukan jati dirinya. Air itu selalu berteman. Jatuh selalu kearah bawah untuk bertemu teman-temannya. Bercampur jadi satu lalu menunjukan kekuatannya. Air yang berupa tetes tak berarti namun air sebesar samudra menjadi berarti. Inilah kami angkatan 2012. Kumpulan calon mahasiswa farmasi yang tak saling kenal disatukan dengan nama angkatan. Pada tahun ini, nama kami diberikan yakni angkatan 2012. Angkatan yang ingin membangun negri dan bangsa dari diri kami, diri angkatan kami, angkatan 2012.

Kuberanikan mempercepat langkah. Ternyata, langkah mendekat tersebut ditimpali sapaan senyum bersahaja oleh mereka.

“Perjumpaan ini ialah awal mula coretan perjalanan hidup dengan 2012”

Bersambung …